Kamis, 02 April 2015
Story
"Mencintai dengan timbangan fithrah dan bashirah. Mencintai dengan kesucian dan mata hati. Fithrah dan bashirah yang jadi timbangannya. Yaitu, jika kau mencintai wanita bukan karena tertipu oleh kecantikan paras wajahnya dan keelokan benruk tubuhnya. Bukan karena tersihir oleh matanya yang berkilat-kilat indah seperti bintang kejora. Bukan pula terpikat karena bibirnya yang ranum segar seperti mawar merekah. Juga bukan karena keindahan suaranya yang susah dilupakan. Bukan karena hartanya yang melimpah ruah. Bukan karena kehormatannya, yang kau akan jadi ikut terhormat karena menikahinya. Jika bukan karena itu semua kau mencintainya. Tapi kau mencintai dengan memakai timbangan fitrahmu, dan matabatinmu. Kau mencintai dia karena merasakan kesucian jiwanya dan agamanya, dan mata batinmu condong karena kecantikan akhlak dan wataknya. Hatimu terpikat karena harumnya kalimat-kalimat yang keluar dari lidahnya. Saat itu kau telah mencintai lawan jenis dengan benar."
(Dikutip dari Novel Mahkota Cinta : Habbiburrahman El-Shirazy.)
....
Aku dan dia berjalan di pantai kehidupan
saling menemukan. . . Saling mencari . . .
Menertawakan kesedihan, menangisi kebahagiaan.
Dia selalu tahu apa yang bisa menghiburnya.
Gelak tawa sahabat. . . Mampu membuatnya ceria..
Hidupnya seindah nyanyian, namun baginya tak ada yang semerdu persahabatan
aku terasing dari yang lain, berbeda !
Seperti bintang laut yang sering melamun menatap bintang di angkasa
bertanya-tanya mengapa aku tak bercahaya ?!
Tapi bintang laut punya lima jari yang membentang lebar
menapaki hidup kuat-kuat . . .
Bertahan. . .
Berjuang. . .
Hidup dalam kegelisahan. . .
Bertubi-tubi di kejar masalah. . .
Menyerang dan menghujam, membuatku ingin menyerah. . .
Angin pantai yang panas menerpa wajahku, butiran pasir menyakiti mata
namun aku akan terus berjalan, karena punya kawan sejati
karena sesungguhnya aku tak pernah sendirian. . .
Hidup dia seakan bundar mulus tak bergerigi, tapi ia selalu mencari cara agar tak memikul kesepian seberat dunia. . .
Pada malam tak berbulan dia menangis, karena hatinya terasa nyeri. . .
Tapi kini ia tahu tak ada yang mustahil dihadapi. . .
Selama sahabat selalu bersama. . .
Karena apapun kebahagiaan yang hilang
entah kebahagiabku, ataukah kebahagiaanmu. . .
Selalu dapat kita temukan dalam lautan tulus persahabatan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Assalamualaikum
BalasHapus